Upacara Adat Papua di Intan Jaya

4 Upacara Adat Papua yang Belum Tentu Kamu Temukan di Daerah Lain

Upacara Adat Papua merupakan salah satu keragaman budaya Indonesia yang menarik untuk dicermati. Selain karena kulturnya yang masih relatif lebih murni, suasana upacara seolah membawa peserta menuju dimensi yang berbeda.

Masyarakat Papua di kabupaten Intan Jaya termasuk masih memegang tradisi tersebut. Beberapa upacara adat masih sering didapati dan diselenggarakan oleh masyarakat di sana.

Upacara adat Papua yang Ada di Kabupaten Intan Jaya

Berikut adalah 4 upacara adat Papua yang bisa kamu saksikan ketika berkunjung ke Intan Jaya, Papua.

Upacara Perkawinan Adat Papua

Papua merupakan daerah dengan keragaman suku dan marga yang cukup tinggi. Ada puluhan, bahkan ratusan suku dan marga di Papua. Meski begitu, upacara perkawinan mereka secara prinsip tidak jauh berbeda, hanya nama dan prosedurnya mungkin berbeda.

Suku Papua yang termasuk banyak menghuni wilayah Intan Jaya di antaranya adalah Suku Migani. Mereka terbiasa mendirikan rumah dan tinggal di wilayah dataran tinggi hingga lereng yang curam. Budaya pun tak bisa dipisahkan dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Upacara perkawinan adat Papuan suku Migani disebut sebagai Mina-Dutia (mina = wanita dewasa, dutia = mengambil). Dalam konteks perkawinan adat suku Migani, ia dapat diartikan sebagai upaya lelaki dewasa mengambil wanita dewasa sebagai istri.

Kedewasaan masing-masing dilihat dari kemampuan mereka dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya di keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, baru mereka mendapatkan restu keluarga dan dapat lanjut ke upacara adat Papua setelahnya, perkawinan.

Upacara adat suku Migani dari Intan Jaya, Papua, biasanya diselenggarakan penuh dengan nyanyian, disebut Jamo Tegaya. Jamo Tegaya dapat diartikan bernyanyi bersama lelaki dan perempuan dewasa. Lelaki yang sedang mencari pasangan akan membawa arakan, lagu, dan persembaan bagi wanita yang mereka dambakan.

Para lelaki  dewasa suku Migani juga perlu didandani dengan riasan dan perhiasan yang menarik hati perempuan. Mulai dari garis warna-wani, hingga gelang anyaman bulu nuri atau kasuari.

Perempuan yang tersentuh hatinya akan menunggu lelaki tersebut di perjalanan pulang untuk sekedar menunjukkan diri. Lelaki yang berbahagia dapat langsung pulang dan mengadakan syukuran yang disebut Mina-Buga Mindia.

Keluarga perempuan yang tersentuh hatinya akan datang ke rumah lelaki untuk membicarakan pernikahan. Saat itu lelaki akan membayar belis (maskawin) dan menentukan hari kedatangan. Di hari yang ditentukan, mereka datang dengan rombongan tetua, iring-iringan pengantar, dan para pengiring musik atau lagu.

Upacara Adat Bakar Batu

Bentuk upacara adat Papua ini memanglah untuk membakar batu, tapi batu tersebut hanyalah sarana untuk memasak yang lainnya. Batu yang telah dibakar akan menyerap panas. Dengan mencampurkan batu tersebut pada bahan makanan, akan mematangkan makanan tersebut secara optimal.

Sebagaimana yang dipahami bahwa bakar batu juga merupakan salah satu cara memasak secara efektif. Karena panas yang disimpan oleh batu akan dikembalikan lagi secara merata dan teratur ke sekitar. Sehingga bahan makanan di sekitarnya dapat matang sempurna, daripada jika dipanggang atau dibakar secara langsung.

Bahan makanan dalam upacara bakar batu biasanya berbentuk umbi-umbian dan daging. Daging yang digunakan dalam upacara ini adalah daging babi. Untuk mendapatkan daging babi yang berkualitas dan penuh berkah, masyarakat juga percaya untuk mengadakan ritual lain berupa tradisi memanah babi.

Upacara adat Bakar Batu di Intan Jaya, Papua, biasanya diselenggarakan untuk mengakrabkan warga masyarakat. Masyarakat Intan Jaya yang memang memiliki kekompakan dan kebersamaan kuat suka berkumpul untuk melakukan tradisi makan bersama ini.

Belakangan, upacara Bakar Batu juga sering diadakan untuk menyambut pejabat pemerintah atau tetua suku lain. Ini berfungsi juga sebagai  bentuk penghormatan serta menunjukkan kerukunan masyarakat di daerah tersebut.

Jika tamu kehormatan merupakan warga muslim yang tidak memakan babi, masyarakat akan menggantinya dengan ayam atau daging lain yang halal. Ini menunjukkan tingginya tingkat toleransi dan saling menghargai pada masyarakat Papua di Intan Jaya.

Upacara Adat Panah Babi

Upacara adat Papua satu ini merupakan pelengkap dari upacara bakar batu. Upacara bakar batu lebih kepada bagaimana mengolah makanan dan menjadikannya perayaan. Sedangkan upacara panah babi lebih ke perayaan bagaimana mendapatkan bahan makanan.

Babi-babi yang akan dijadikan makanan merupakan babi pilihan yang sudah diseleksi memiliki kualitas baik. Pada upacara yang melibatkan banyak suku, para wakil suku biasanya menyerahkan babi terbaik sebagai korban.

Untuk membunuhnya, tidak digunakan cara menyembelih secara umum, melainkan dengan cara dipanah. Masyarakat percaya bawa babi yang mati langsung ketika dipanah merupakan pilihan yang direstui dari semesta.

Orang yang memiliki kehormatan untuk memanah babi ini biasanya merupakan tokoh yang dihormati masyarakat. Atau, bisa juga merupakan orang pilihan yang telah terbukti memiliki jasa pengabdian. Kepala-kepala suku adalah yang paling sering mendapatkan kehormatan ini.

Upacara panah babi terkadang menjadi pertanda mulai dan berakhirnya konflik antarsuku. Terkadang, fungsinya sebagai persiapan untuk mobilisasi pejuang sebelum perang. Bisa juga sebagai pertanda bahwa perdamaian dan rekonsiliasi telah terjadi.

Baca juga; Ragam Destinasi Wisata di Intan Jaya

Upacara Adat Rekwasi

Upacara adat Papua satu ini merupakan salah satu yang sering dilakukan masyarakat. Penyelenggaraannya memang tidak memiliki agenda waktu secara teratur, melainkan sesuai  dengan kondisi dan situasi.

Upacara Rekwasi oleh masyarakat Intan Jaya, Papua merupakan salah satu bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada alam dan leluhur. Mereka percaya bahwa perjalanan mereka hingga saat ini merupakan hasil perjuangan leluhur dan restu dari alam.

Upacara ini diselenggarakan dalam bentuk menari dan bernyanyi bersama. Para peserta biasanya akan membuat tanfa, riasan dari lemak babi, sagu rekat, atau getah pohon. Bisa juga berbentuk hiasan dari kerang-kerangan, bulu burung atau kus-kus.

Dalam bernyanyi dan menari, para pejuang juga akan membawa berbagai macam senjata tradisional. Ada tombak, parang, kapak, busur, hingga perisai yang digunakan. Keseluruhan acara menjadi seperti sebuah momen peperangan yang mistis dan transendental.

Apacara adat Papua satu ini sering diadakan ketika sedang mengalami berkah yang melimpah. Terkadang, upacara rekwasi juga diadakan sebagai tolak bala ketika ada musibah. Ini sebagai bentuk kepercayaan bahwa para leluhur tetap selalu bersama masyarakat Papua hingga saat ini.

Papua Kaya Tradisi dan Budaya

Selain upacara tersebut di atas, ada juga tradisi dan ritual lainnya. Contohnya seperti potong rambut, tanam sasi, potong jari, hingga ritual makan tanah.

Sebagaimana halnya suku lain di Indonesia, Papua  pun memiliki tradisi dan budaya yang unik. Keunikan dan keeksotisan budayanya mungkin tidak dapat kamu temukan dari daerah lain.

Pemerintah kabupaten Intan Jaya, Papua selalu berusaha untuk melestarikan adat dan budaya ini. Tak hanya prosesinya, tapi juga nilai-nilai luhur warisan nenek moyang yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya menjadi modal kekayaan budaya nasional, juga sebagai benteng pertahanan kearifan lokal.

Jika kamu memiliki jiwa petualang dan penjelajah, dijamin akan terpukau dengan segala pesona budaya Papua di Intan Jaya. Mulai dari makanan, kerajinan, hingga tradisi dan upacara adat Papua di sana.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top