Wisata Intan Jaya Papua - Puncak Carstenz-min

Wajib Dikunjungi, 5 Destinasi Wisata Intan Jaya Papua

Wisata Intan Jaya Papua sedang mengalami peningkatan, baik dari segi perhatian pemerintah daerah hingga kunjungan wisatawan. Pemerintah setempat memang hendak menjadikan daerah tersebut sebagai destinasi wisata daripada area pertambangan.

Keputusan pemda setempat ini sudah melewati pertimbangan yang masak. Apalagi melihat daerah pertambangan di Papua seperti Timika dan lain-lain sering mengalami konflik. Baik konflik yang berakar dari masalah sosial ataupun lingkungan.

Untuk itu, pemerintah setempat gencar membangun dan menginformasikan destinasi wisata disana. Berikut ini adalah destinasi unggulan wisata Intan Jaya Papua, siapa tahu berminat ke sana.

Taman Nasional Lorentz

Nama Lorentz diambil dari penjelajah Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz yang mengunjungi kawasan ini di tahun 1909. Dengan luas 2,4 juta hektar, ia merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara yang diakui UNESCO Wildlife Foundation.

Hingga sekarang proses pemetaan taman nasional Lorentz ini masih berjalan. Memang cukup lama mengingat ia menjadi rumah dari ribuan spesies flora dan fauna lokal, endemik, dan unik. Dengan kekayaan alami tersebut, ia cocok sekali sebagai destinasi unggulan wisata Intan Jaya Papua.

Taman nasional terbesar di Asia Tenggara ini saking besanya meliputi lebih dari 3 kabupaten di Papua. Puncak Jaya atau Puncak Carstensz pun termasuk di dalam taman nasional ini.

Puncak Carstensz, Papua

Intan Jaya Papua memang bukan daerah pantai, karena itu tidak memiliki wisata pantai seperti Raja Ampat. Sebagai gantinya, Intan Jaya memiliki puncak kebanggaan yang menjadi impian setiap pendaki dunia.

Puncak Carstensz atau Puncak Jaya merupakan nama dari sebuah puncak gunung di  barisan pegunungan Sudirman atau Jayawijaya. Di kalangan para pendaki, nama gunung ini sudah melegenda karena termasuk 1 dari 7 puncak tertinggi dunia.

Para pendaki yang hendak menaklukkan seven summit of the world, menjadikan puncak Carstensz sebagai tujuan penaklukkan. Ini karena puncak Carstensz dengan ketinggian 4884 mdpl mewakili puncak tertinggi dari lempeng benua Ausralia-Oceania.

Nama Carstensz sendiri diambil dari nama seorang penjelajah Belanda, Jan Carstenszoon, yang pertama melihat gletser di sana pada 1623. Namanya kemudian diubah secara resmi menjadi Puncak Soekarno pada 1963, dan dirubah lagi menjadi Puncak Jaya di era presiden Soeharto.

Hingga sekarang, di kalangan pendaki, sebutan Carstensz Pyramid tetap lebih populer sebagai destinasi wisata Intan Jaya Papua.

Rute Pendakian Puncak Carstenz

Sebagai puncak impian para pendaki, jalur menuju Carstensz termasuk sulit dan berbiaya lumayan. Pendaki dari luar kota atau pulau perlu menuju kota Nabire terlebih dahulu. Dari sana baru menuju Desa Sugapa di kaki gunung menuju puncak Carstensz.

Sebenarnya, terdapat 2 jalur pendakian menuju puncak, yaitu melalui Sugapa dan Tembagapura. Melalui Sugapa memakan waktu lama, jauh, dan biaya lebih tinggi, karena masih alami sekali. Infrastruktur kurang mendukung untuk wisata Intan Jaya Papua. Namun, untungnya pendaki dapat menjalani aklimatisasi dengan baik.

Sedangkan melalui Tembagapura, jauh lebih cepat karena masuk area pertambangan Freeport. Secara infrastruktur tentu lebih baik dan modern. Hanya saja, izinnya cukup sulit dan karena terlalu cepat, adaptasi tubuh terhadap ketinggian kurang. Bayangkan dari 400 ke 4000 mdpl hanya dalam hitungan jam.

Wisata Budaya Intan Jaya Papua

Papua sejak lama dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak keunikan budaya. Budaya Indonesia bagian timur ini dapat menjadi magnet yang menarik bagi tujuan wisata Intan Jaya Papua.

Sebagai rumah lebih dari 5 suku di Papua, Intan Jaya dapat dikatakan kaya akan budaya daerah. Mulai dari tari-tarian, musik, kerajinan lokal, hingga festival dan perayaan warisan leluhur.

Sebut saja tari berburu, tari perang, tari penyambutan, tari peresmian rumah tangga, dan beragam tari lainnya. Setiap tarian pun biasanya diiringi ragam musik yang berbeda. Menyaksikan festival tarian adat Papua di Intan Jaya seperti mengajak masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.

Festival Adat Budaya Papua di Intan Jaya

Ada lebih dari 20 sanggar seni yang terbentuk di 6 distrik berbeda di Intan Jaya. Setiap tahun, di bulan September, pemerintah setempat biasa mengadakan festival dan lomba antara sanggar-sanggar seni tersebut. Selain bertujuan untuk melestarikan budaya daerah, festival ini dapat menarik wisatawan dari luar Papua.

Dalam festival tersebut, wisatawan dapat menyaksikan pameran kerajinan lokal dan budaya Papua. Yang paling menarik adalah pentasi seni berupa cerita rakyat setempat yang dinarasikan secara musikal lewat lagu dan tarian. Di sini, wisatawan dapat mencoba mendalami keyakinan dan kepercayaan masyarakat lokal.

Dengan keunikan dan keunggulan tersebut, wisata Intan Jaya Papua di bidang budaya memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan. Apalagi mengingat setiap tahun, Intan Jaya bisa kedatangan ratusan hingga ribua pendaki tingkat dunia.

Air Terjun Alami

Meski tidak memiliki pantai seindah Raja Ampat, Intan Jaya Papua memiliki destinasi wisata air. Wisata air yang dimakasud adalah wisata air tawar, baik berupa sungai maupun air terjun.

Ukuran sungai-sungai di Intan Jaya cukup besar, dengan lebar mencapai puluhan meter untuk daerah bawah gunung. Sungai-sungai tersebut sering dijadikan sebagai sarana untuk festival penduduk setempat.

Di daerah yang lebih tinggi, sungainya mungkin lebih sempit, tapi sebagai gantinya, ada banyak air terjun yang dapat dikunjungi. Kebanyakan air terjun tersebut masih sangat alami dengan air yang jernih dan segar. Air tersebut juga menjadi destinasi unggulan wisata Intan Jaya Papua.

Paling tidak, ada 8 air terjun di kabupaten Intan Jaya yang dapat dinikmati wisatawan. Daftar air terjun tersebut sebagai berikut.

  1. Air terjun Munilogo.
  2. Penderasan Dahu Wu.
  3. Teladas Pini Wu.
  4. Air Terjun Ugi Wu.
  5. Penderasan Jele Wu.
  6. Teladas Kumbalu Wu.
  7. Air terjun Wagapigu Wu.
  8. Penderasan Bagungela Wu.

Semua air terjun tersebut merupakan area wisata yang buka selama 24 jam. Harga tiket masuk tiap air terjun sekitar Rp 20.000,00 untuk peduduk lokal.

Kolam Garam Moe Kumu

Ada pepatah melayu untuk menggambarkan jodoh, yang berbunyi, “Asam di gunung, garam di laut, bertemu jua di belanga.” Maksudnya kalau memang sudah jodoh, mau dari mana dan ada di mana juga pasti akan ketemu.

Namun, agaknya pepatah tersebut tidak bisa diterapkan di Intan Jaya. Ini karena tidak ada pohon asam di gunung-gunung sana, dan untuk mendapatkan garam, mereka tidak membutuhkan laut. Penduduk Intan Jaya dapat membuat garam dengan mengambil dari kolam garam Moe Kumu sejak sangat lama.

Kumu berarti garam dalam bahasa lokal, sedangkan Moe adalah nama sungai yang mengaliri kolam tersebut. Kolam garam Moe Kumu terdapat di dusun Sabisa, kampung Jae, distrik Wandai. Ia juga menjadi destinasi wisata Intan Jaya Papua yang banyak dikunjungi, bahkan oleh suku-suku di pegunungan Papua bagian Tengah.

Untuk menuju kolam garam Moe Kumu di Sabisa, rute yang ditempuh memang tidak mudah, penuh dengan petualangan yang menantang. Namun, bagi para penjelajah, tantangan tersebut justru yang menarik. Karena travelling bukan tentang tujuan, tapi tentang proses sepanjang perjalanannya.

Selain di Moe Kumu, kolam garam juga dapat ditemukan di desa Hitadipa dan Ugimda. Masyrakat setempat biasanya mengolah air garam tersebut dengan cara tradisional. Cara pengolahan tradisional ini pun sebenarnya menarik untuk diamati.

Kesimpulan Wisata Intan Jaya Papua

Papua penuh dengan keelokan dan keindahan yang menunggu untuk dieksplorasi. Mengunjungi destinasi wisata Intan Jaya Papua akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi setiap petualang dan penjelajah. Sudah siap menjadi penjelajah?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top