8 Fakta Menarik Kabupaten Intan Jaya - Papua

8 Fakta Menarik Kabupaten Intan Jaya, Papua

Kabupaten Intan Jaya adalah sebuah kabupaten yang terletak di Papua bagian tengah. Selama ini ketika mendengar Papua, yang berada di benak orang adalah Raja Ampat, Freeport, Persipura, dan Puncak Jaya. Faktanya, sedikit yang tahu bahwa Puncak Jaya yang diselimuti salju abadi tersebut ada di kabupaten ini.

Meski nama Intan Jaya tidaklah lebih populer dibandingkan Timika, Wamena, atau Jayapura, ia tetap memiliki keunikan tersendiri. Artikel ini akan membahas 10 fakta menarik tentang kabupaten Intan Jaya, Papua.

Luas 1 Kabupaten Intan Jaya, Lima Kali Lipat dari Jakarta #1

Kabupaten Intan Jaya, Papua, secara geografis menempati luas wilayah sekitar 3.900 km2. Ini berarti  ia memiliki luas  wilayah hingga lebih dari 5 kali wilayah Jakarta.

Bahkan, jika dibandingkan dengan Yogyakarta sekalipun, Intan Jaya masih lebih luas. Yogyakarta hanya menempati luas wilayah sekitar 3.100 km2, terpaut 800km2 dari Intan Jaya.

Dengan luasan tersebut, Intan Jaya hanya ditempati kurang dari 46 ribu jiwa, dengan kepadatan 12 jiwa/km2. Jumlah ini bahkan lebih kecil dari jumlah penduduk kecamatan Ciracas, Jakarta Timur yang mencapai 50.000 jiwa.

Ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah kabupaten Intan Jaya berupa lahan kosong yang tidak berpenghuni. Meski tidak berpenghuni, bukan berarti tidak dimanfaatkan. Karena pertanian, perkebunan, dan peternakan berkembang cukup pesat di sini.

Kabupaten Intan Jaya Menginjak Remaja #2

Meski memiliki luas lebih dari 5 kali lipat DKI Jakarta, Intan Jaya ternyata baru mau memasuki usia remaja. Dilihat dari usianya, Intan Jaya bahkan belum merayakan ulang tahun yang ke-12-nya.

Sebelum menjadi kabupaten sendiri, ia merupakan bagian dari kabupaten Paniai. Di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mendagri saat itu, Bpk. Mardiyanto meresmikan kabupaten ini pada 29 Oktober 2008. Peresmian daerah otonomi baru (DOB) ini berdasarkan UU no. 54 tahun 2008, tentang pembentukan kabupaten Intan Jaya.

Dalam undang-undang itu pula, ditetapkan 6 distrik yang menjadi  bagian dari kabupaten Intan Jaya. Distrik-distrik tersebut adalah distrik: Sugapa, Homeyo, Wandai, Biandoga, Agisiga, dan Hitadipa.

Intan Jaya Sedingin Lemari Es #3

Berada di daerah dataran tinggi, rerata suhu udara harian di kabupaten Intan Jaya adalah antara 12 – 25 derajat Celcius.

Pada bulan September, saat curah hujan mengalami fase terbesar, suhu udara dapat turun mencapai 9 derajat Celcius. Ini sama dengan suhu tertinggi lemari es yang mencapai 4 – 9 derajat Celcius.

Di bulan April, saat musim kemarau, suhu tertinggi hanya 28 derajat Celcius. Jauh lebih rendah dari sebagian besar daerah lain di Indonesia.

Rendahnya suhu rata-rata di wilayah ini karena ketinggiannya mencapai 2000 – 3000 mdpl (meter di atas permukaan laut). Bahkan di kecamatan Sugapa saja, ketinggiannya sekitar 2200 mdpl.

Bagi yang suka berwisata ke daerah dingin, daripada jauh-jauh ke Alpen, Intan Jaya lebih dekat dan nyata.

Negeri di atas Awan, Terjangkau dengan Terbang #4

Berada di dataran tinggi dengan topografi yang meliuk vertikal, sebagian wilayah kabupaten Intan Jaya berada di atas awan. Distrik Sugapa contohnya, yang dikelilingi pengunungan Mbulu-bulu Pigu, Bula Pigu, dan Jogo Pigu, hanya dapat dicapai dengan penerbangan perintis.

Sebenarnya bukan tidak ada jalan sama sekali di sini. Jalan ada, hanya berupa setapak yang menembus hutan, naik turun bukit, dan menyeberangi sungai. Jembatan pun masih sangat sederhana dari kayu dan tali  yang tidak mungkin dilalui kendaraan.

Oleh karena itu, tepat sekali program nasional presiden dan program daerah setempat periode ini. Perhatian besar diberikan pada bidang infrastruktur dan sarana-prasarana. Jalan-jalan dibangun, jembatan-jembatan diperbarui dan dikuatkan.

Peran pemerintah daerah setempat sangat besar dalam mewujudkan niat menjadikan Intan Jaya sebagai destinasi wisata.

Baca juga;

Gerbang Adat ke Puncak Carstensz #5

Puncak Carstensz atau Puncak Jaya merupakan salah satu tujuan utama dari seven summit of the World. Setiap pendaki dunia selalu berharap untuk dapat menginjak satu-satunya salju abadi di Indonesia Timur tersebut.

Ada 2 jalur memang menuju Puncak Carstenz, yakni melalui tambang Grassberg, atau Distrik Sugapa. Distrik Sugapa inilah yang merupakan gerbang adat pendakian menuju puncak Carstensz.

Kelebihan melalui Distrik Sugapa adalah dapat mengamati kondisi sosio-kultural masyarakat setempat. Apalagi, mengingat papua memiliki keelokan dan keunikan budaya yang memancing ketertarikan setiap petualang.

Melewati Distrik Sugapa juga berarti mengambil jalan yang cukup lama, hingga 3 – 4 hari menuju Puncak. Ini memberikan tubuh kesempatan untuk melakukan adaptasi dan aklimatisasi. Dengan demikian, kondisi tubuh akan lebih terjaga saat memutuskan akan summit (menuju puncak).

Peningkatan Nilai Indeks Pembangunan Manusia #6

Nilai Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Intan Jaya merangkak naik secara konsisten. Meski lebih kecil dibandingkan dengan IPM Papua keseluruhan yang mencapai angka 6,0, sederet indikator menunjukkan perbaikan dan peningkatan.

Sebut saja angka partisipasi sekolah yang meningkat lebih dari 30% secara konsisten sejak beberapa tahun terakhir. Begitu pula angka harapan lama sekolah meningkat 0,4 poin menjadi 7,11 dari sebelumnya 6,76. Srta jumlah pelajar tingkat perguruan tinggi yang juga semakin bertambah.

Pemerintah kabupaten Intan Jaya menunjukkan komitmennya dalam peningkatan kualitas pendidikan dengan berbagai program. Mulai dari pemberantasan buta huruf dengan program Paket A, B, dan C. Sampai beasiswa dan dukungan pemondokan bagi mahasiswa yang belajar ke luar pulau.

Harga Babi di Intan Jaya Lebih Mahal dari Harga Sapi #7

Kegiatan beternak babi sudah menjadi tradisi yang tak terpisahkan bagi sebagian penduduk Intan Jaya. Jumlah babi yang dimiliki bahkan bisa untuk menunjukkan status sosial. Semakin besar jumlah babi yang dimiliki, semakin tinggi status sosialnya di mata masyarakat.

Hal ini wajar saja mengingat harga seekor babi di sini lebih mahal daripada harga seekor sapi di Pulau Jawa. Satu babi di sini dihargai hingga 30 juta/ekor, sama dengan 2 kali harga sapi di Jawa yang berkisar 10-20 juta/ekor.

Potensi Pembangkit Listrik #8

Berada di dataran tinggi dari pegunungan Sudirman atau Jayawijaya, membuat kabupaten Intan Jaya memiliki banyak sungai. Beberapa sungai memiliki debit yang cukup besar untuk dijadikan pembangkit listrik mikrohidro.

Potensi mikrohidro ini antara lain ditemukan di Distrik Sugapa, Distrik Homeyo, dan Distrik Wandai. Di distrik Sugapa sendiri diperkirakan dapat dibangun hingga 2 mikrohidro, yakni di Wabu dan Tigabu (hulu sungai Wabu).

Berdasarkan hasil survey perhitungan awal, kemungkinan mikrohidro Wabu ini mampu mengaliri listrik 3 distrik sekaligus. Distrik tersebut ialah Sugapa, Homeyo, dan Hitadipa.

Menemukan Surga di Intan Jaya

Demikian fakta-fakta menarik mengenai kabupaten Intan Jaya, Papua. Fakta tersebut diharapkan dapat membuat orang semakin mengenal dan memahami wilayah yang merupakan pintu gerbang ke langit dunia.

Negeri di atas awan ini memang menyimpan pesona yang luar biasa. Dengan dukungan pemerintah setempat, potensi kabupaten Intan Jaya akan dapat dimanfaatkan dengan optimal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top