Uniknya Garam Dari Air Gunung

Anak-anak sekolah di Distrik (Sebutan untuk wilayah kecamatan di Papua, red)  Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua, mungkin bingung  jika diajarkan peribahasa “Asam di gunung, garam di lautan.” . Ya, karena di tempat mereka, yang berbukit-bukit itu, tidak ada pohon asam. Sebaliknya,  yang ada justeru kolam garam yang dimanfaatkan untuk membuat garam oleh masyarakat, sejak nenek moyang mereka. Di dusun Jae, Kampung Sabisa, Distrik  Wandai, disitulah terdapat kolam garam yang dalam bahasa lokal biasa disebut Moe Kumu. Kumu artinya garam, dan Moe adalah nama sungai yang mengalir di dekat kolam garam ini. Sejatinya, kolam garam  berbentuk elips, berukuran sekitar 5x2 meter ini dialiri oleh mata air dibawah batu besar di dekat kolam. Meski debit airnya kecil,  namun alirannya tidak pernah mati sepanjang tahun. Konon, sejak jaman nenek moyang,  garam dari Wandai  sudah dimanfaatkan  oleh bukan hanya masyarawat  Wandai saja, tapi oleh beberapa suku di kawasan Pegunungan Tengah, Papua. Bahkan pencari garam juga datang dari Wamena meski mereka  harus menempuh perjalanan kaki beberapa hari. “Sebelum mengenal uang, masyarakat biasa ‘baku tukar’ (barter) garam dengan anak babi,” jelas Kepala Distrik Wandai, Yeskiel, kepada Media Pembaruan, baru-baru ini. Memang, tidak mudah untuk mencapai lokasi kolam garam ini. Dari ibukota kabupaten, Sugapa, Anda harus naik ojek sekitar dua  jam sampai di sungai Kemabu. Nah, di sungai Kemabu ini hanya ada jembatan gantung selebar 1 meter dan belum bisa digunakan untuk menyeberangkan kendaraan bermotor.  Lalu, dari jembatan ini, Anda akan menempuh perjalanan sekitar 2-3 jam tergantung bila berjalan tanpa sering berhenti. Uji Fisik Di sini, ketahanan fisik benar-benar diuji. Setidaknya,  Anda akan melewati tujuh tanjakan dan tujuh  turunan yang akan menguras tenaga. Tapi,  ini tidak berlaku untuk warga setempat. Sebab, bagi masyarakat lokal, kalau lutut belum terangkat sejajar pinggang itu masih masuk kategori jalan datar. “Ah tidak, disini jalan datar saja, bukan macam orang panjat gunung”, kata Yeskiel menjawab Media Pembaruan di perjalanan. Kabar baiknya, jika beruntung, Anda bisa menumpang zonder, satu satunya alat transportasi multifungsi yang ada disini. Zonder adalah sebutan masyarakat terhadap traktor merk John Deere. Traktor ini milik kontraktor yang mengerjakan proyek pembukaan jalan. Sayangnya, ketika itu, Zondernya  sedang dalam kondisi rusak. Bagi Anda pecinta alam, atau yang suka dengan adventure travelling, tentu cukup menyenangkan berjalan kaki menuju kolam garam.  Sebab, di sepanjang perjalanan,  Anda akan disuguhi pemandangan perbukitan yang indah dan mendamaikan. Desir angin dan gemuruh suara air sungai Kemabu akan menemani sepanjang perjalanan.  Dan sesekali,  Anda juga akan mendengar nyanyian seorang pemuda atau teriakan menyapa Anda dari kejauhan. Tapi, untuk sampai di lokasi kolam garam dan disambut ramah masyarakat setempat, Anda harus ditemani pemandu yang dikenal baik masyarakat. Karena, masyarakatnya  selektif  member ijin kepada  orang yang baru dikenal. Sebab,   kolam garam dianggap sakral oleh masyarakat. Konon,  jika ada orang berbuat tidak baik disekitar kolam garam,  maka air kolam akan berubah menjadi air tawar biasa. Oleh karena itu,  mereka harus memastikan bahwa orang yang datang adalah orang ‘baik-baik’. Cara Membuat Garam Ada 3 cara pembuatan garam yang dilakukan masyarakat ecara tradisional. Pertama, Dagokumu (Dago : nama kayu, Kumu : garam). Kayu dago sepanjang  1 sampai 1,5 meter direndam selama 2 hari hingga kayu terlihat lemas. Kayu lalu dikeringkan dan selanjutnya dibakar menggunakan kayu. Saat kayu terbakar menjadi abu, Dagokumu atau kayu dago yang telah direndam air garam menjadi garam yang berbentuk seperti pecahan karang. Menurut warga setempat, Dago kumu adalah garam yang paling bagus untuk memasak. Masakan akan beraroma khas jika menggunakan dago kumu ini. Kedua, Ogokumu (Ogo : nama daun). Hampir sama dengan dago kumu, ogokumu dilakukan dengan merendam daun kedalam kolam garam. Bedanya, jika dagokumu dibakar maka daun ogo cukup dikeringkan didekat perapian atau di jemur.  Daun hijau ini akan mengeras dan siap dikonsumsi. Ketiga, merebus air garam dengan drum yang telah dibelah dua. Air dari kolam garam dibawa dengan jerigen ke Kumumba. Kumumba adalah bangunan untuk tempat pengolahan air garam. Disini, air garam dituangkan kedalam drum hingga penuh, dan  selanjutnya dimasak dengan kayu bakar hingga airnya habis menguap dan tersisa kerak garamnya. Garam yang sudah jadi inipun lalu dibungkus dengan daun buah merah. Selanjutnya,  garam yang telah dibungkus  itu dikeringkan dengan cara menjemur sekitar tujuh  hari. Biasanya masyarakat membuatnya dalam dua ukuran, yaitu, satu,  seukuran satu telapak tangan yang dijual seharga 20 ribu, dan kedua,  berukuran sepanjang dua kalinya, yang  dijual Rp. 50 ribu per bungkus. Meski bisa berproduksi sepanjang waktu,  namun masyarakat dari marga Jagani dan Myogani (family dalam suku Moni), pengelola kolam garam ini tidak menjadikan produksi garam sebagai mata pencaharian sehari hari. Di daerah yang relative terisolir itu, produksi garam lebih kental sebagai aktivitas budaya. Mereka berproduksi secara terbatas dan hanya menjual persediaannya saat ada warga kampung lain datang ingin membeli garam. Dan mereka baru  menjual garam untuk mendapatkan uang banyak jika sedang membutuhkan uang untuk upacara adat atau untuk membiayai sekolah anak di luar kampung.  Adapun wilayah penjualannya, isa mencapai kampung kabupaten tetangga, seperti  ke Enarotalli, Nabire, dan  Timika. (**)

One thought on “Uniknya Garam Dari Air Gunung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *