Potret Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Terpencil

Bertugas menjadi dokter dan paramedis di daerah terpencil dan terisolir tidaklah mudah.  Tetapi, sejumlah dokter dan perawat ini malah menikmatinya  dan kerasan tinggal di wilayah tersebut.   Naskah: Gatot Sulistoni   Matahari tepat diatas kepala, namun masih ada puluhan orang berkerumun di sebuah bangunan berukuran sekitar 8m x 10m. Terbuat dari kayu dan papan bercat warna hijau. Beberapa pria berpakaian lusuh, ada pula yang hanya memakai koteka dan aksesoris khas Papua sambil membawa panah. Yang lainnya kebanyakan adalah perempuan bersama anak-anak mereka yang sebagian masih bayi. Ada yang sedang menyusu ada pula yang tertidur pulas di noken Ibunya. (noken adalah semacam tas serbaguna yang terbuat dari tali anyaman berbahan kayu. Biasanya perempuan Papua membawanya dengan menggantung di kepala). Sebagian anak laki-laki, seperti bapaknya, nampak hanya memakai ‘koteka mini’. Disudut ruang tunggu meringkuk seorang anak jelang remaja, berselimut sarung lusuh, nampak menggigil sambil meringis menahan rasa sakit. Semua pasien yang menunggu duduk di lantai semen berdebu. Baik menunggu panggilan pemeriksaan atau menunggu pemberian obat. Ya, itulah pemandangan sekilas dari luar Puskesmas Sugapa. Puskesmas terbesar dan terlengkap di Kabupaten Intan Jaya. Belum ada rumah sakit di kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten Paniai tahun 2008 ini. Sehingga Puskesmas Sugapa menjadi andalan masyarakat bukan saja dari distrik Sugapa namun juga dari distrik lainnya. Hanya Puskesmas Sugapa yang telah memiliki fasilitas rawat inap. Meski terbatas hanya 2 ruangan 3 x 2,5 m masing-masing berisi 4 bed. Memasuki Puskesmas, segera bau cukup menyengat menyambar hidung. Bukan bau obat-obatan sebagaimana biasanya Puskesmas, tapi adalah bau badan dari Pasien. “Pola hidup bersih memang belum membudaya disini. Masyarakat tidak mandi rutin bahkan untuk sekedar mencuci tangan atau kaki menggunakan sabun pun jarang. Apalagi dalam kondisi sakit”, demikian dr. Tulus mempermaklumkan. Tidak heran jika salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat adalah diare, disusul Infeksi saluran pernapasan atas, dan myalgia (masuk angin). “Penyakit dominan masyarakat di Sugapa sesuai karakteristik lingkungan. Disini daerah ketinggian sekitar 2500, umumnya sakit ISPA, myalgia (masuk angin) dan Diare. ISPA dan myalgia disebabkan karena faktor dinginnya. Rata-rata sekitar 8 derajat Celcius. Diare karena faktor kebiasaan masyarakat menjaga kebersihan tubuh dan makanan. Penyakit lainnya adalah malaria”, dr. Tulus menjelaskan. Melayani pasien rawat jalan sekitar 60-80 orang per hari dan  rawat inap sekitar 8 orang setiap hari nya bukan hal mudah. Meski perbandingan jumlah dokter dan pasien saat ini cukup memadai, namun menghadapi masyarakat dengan kualitas SDM yang cukup terbelakang membutuhkan perjuangan tersendiri. Tercatat ada 3 dokter umum termasuk kepala Puskesmas dan 1 dokter gigi, 18 perawat, 2 bidan, 2 analis lab, 1 farmasi. “Tugas kami 24 jam karena ada rawat inap sehingga perawat dibagi menjadi 3 shift.  Selain di Puskesmas kami juga melakukan kunjungan pelayanan kesehatan ke kampung-kampung atau ke gereja”, ungkap Hilda salah seorang perawat. “Memanfaatkan masyarakat yang sedang berkumpul untuk ibadah di gereja, lebih mudah menjemput bola dibanding harus turun ke kampung yang pemukiman warganya  berjauhan”, kata Eliati yang juga perawat, melengkapi. Animo TInggi Animo masyarakat untuk berobat ke Puskesmas memang sangat tinggi. Apalagi pasien tidak dikenai biaya apapun. Tidak jarang ada pasien yang memeriksakan diri untuk penyakit ringan-ringan seperti sekedar pusing biasa. Tentu saja, daripada keluar biaya untuk membeli obat di kios lebih baik mendapatkannya secara gratisan di Puskesmas. “Syukurlah, meski di kabupaten pedalaman seperti ini, obat-obatan yang tersedia selalu mencukupi dan berkualitas bagus. Hanya saja untuk alat-alat kesehatan masih kurang. Contohnya peralatan untuk bedah minor atau pemberian oksigen yang sangat terkendala oleh listrik”, papar dr. Tulus. Drg. Nisa, satu satunya dokter gigi Puskesmas Sugapa yang setiap hari melayani 5-7 pasien, juga mengiyakan. “Saya sudah hampir 5 tahun mengabdi di sini namun hingga sekarang belum tersedia kursi dental unit. Pemeriksaan dan tindakan dilakukan dengan fasilitas kursi duduk biasa, seperti bangku sekolah SD. Tentu saja hal ini kurang nyaman untuk pasien dan juga melelahkan bagi dokter.”, ungkap drg Nisa dengan ekspresi sabar. “Tidak ada gunanya mengeluh, kita bersabar saja karena kabupaten ini masih sedang berbenah. Usulan pengadaan setiap tahun sudah kami perjuangkan ke ‘atas’, semoga tahun 2015 bisa terlaksana pengadaannya. Selain itu ketersediaan listrik juga perlu ditingkatkan supaya alat-alat kesehatan yang bersifat elektrik bisa efektif digunakan ”, harap drg. Nisa Saat ditanyakan harapannya, dr. Tulus mengemukakan beberapa hal yang perlu dibenahi demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. (Lihat Lima Harapan Dokter). Dan tentunya, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya  sudah selayaknya memperhatikan dan memenuhinya. Semoga. (**) Box: Lima Harapan Dokter Hal penting yang patut diperhatikan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya untuk meningkatkan pelayanan Puskesmas, yaitu :
  1. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pembinaan atau pelatihan.
  2. Obat-obatan semakin ditingkatkan ketersediaan dan kualitasnya
  3. Alat kesehatan seperti tabung oxygen, sterilisasi, peralatan dokter gigi dan perlengkapan untuk puskesmas keliling.
  4. Penambahan ruangan untuk program TBC, HIV, KIA.
  5. Faktor penunjang : ketersediaan air dan listrik. Terutama air bersih dimusim kemarau. (**)
             

One thought on “Potret Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Terpencil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *