PARIWISATA INTAN JAYA

Budaya masyarakat dan keindahan alam di Kabupaten Intan jaya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi daerah wisata. Siapa tak kenal Puncak Carstensz? Nama itu sudah mendunia, dan menjadi berkah bagi Kabupaten Intan Jaya karena Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif telah menetapkan wisata Carstens sebagai Daerah Tujuan Wisata ‘milik’ Kabupaten Intan jaya. Ada salju abadi di sini, yaitu  kawasan di sekitar Puncak Carstensz yang bersalju sepanjang tahun. Selain itu, hutan di Kabupaten Intan Jaya, yang   merupakan bagian dari hutan tropis Papua, ini juga  menjadi  habitat bagi berbagai flora dan fauna, termasuk Burung Cendrawasih dan Kasuari yang sangat indah meski keberadaannya semakin terdesak dan langka. Selain itu,  ada juga binatang kuskus yang terlihat lucu, seperti anak  Panda. Sementara, untuk kategori flora, di kawasan tertentu juga terdapat sejumlah jenis anggrek. Di hampir semua distrik,  pemandangan alam  bukit dan pegunungan nan menghijau senantiasa memanjakan mata untuk menatap jauh ke depan. Dan pastinya, keindahan alamnya terasa luar biasa, jauh melebihi keindahan pemandangan alam di kawasan Puncak, Bogor.  Tak cuma itu, beberapa air terjun juga turut melengkapi keindahan alam itu. Garam Unik Satu hal yang unik di daerah pegunungan ini adalah adanya aliran air sungai yang mengandung garam, dan diolah masyarakat untuk menjadi garam. Kolam-kolam air garam alamiah itu terdapat di sejumlah tempat di Distrik  Hitadipa, Homeyo dan yang terbesar produksi garamnya  berada di Distrik Wandai. Pada masa lalu,  tiga distrik tersebut menjadi  pusat produksi garam di wilayah pegunungan sehingga warga dari kabupaten sekitarnya  banak datang untuk beli  garam. Namun,  mengingat kala itu belum ada mata uang, jual beli dilakukan secara barter. Kekayaan alam itu, masih ditunjang oleh budaya masyarakat, seperti tari-tarian perang, pesta bakar batu, dan keramahan masyarakat Moni yang selalu menyapa pendatang baru ketika berpapasan. Pesta bakar batu biasa dilaksanakan masyarakat pada acara-acara perkawinan,  syukuran, dan ajang  perdamaian setelah perang suku. Pada umumnya, bakar batu tersebut dilwarnai  dengan pemanggangan dan pengasapan  babi  dan sayuran di tengah batu yang telah dibakar. Berbenah Diri Menyadari besarnya potensi pariwisata itu, pemerintah daerah kini mulai berbenah mempersiapkan diri menyambut tamu-tamu wisatawan yang kebanyakan diantaranya adalah wisatawan asing. Di ibukota kabupaten, Sugapa,  telah dibangun homestay untuk wisatawan, dan di Desa Ugimba,  kampung terakhir yang disinggahi wisatawan Castensz, dipersiapkan sebagai kampung  wisata. Sementara,  infrastruktur jalan menuju daerah itu juga sudah direncanakan pembangunannya. Selain itu, pemerintah juga sudah mulai membina masyarakat untuk memproduksi noken  yang sebenarnya sudah membudaya, dan menjadi  kegiatan sampingan  di kalangan wanita Suku Moni. Satu kendala besar yang dihadapi kabupaten ini adalah masalah transportasi. Perjalanan menuju  Puncak Crastensz,  diawali dari Bandara Bilorai,  Distrik Sugapa, Kabupaten Intan jaya dengan menggunakan ojek ke Suanggama, Distrik Hitadipa. Setelah itu, perjalanan hanya bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar enam sampai tujuh jam untuk ukuran penduduk setempat. Sementara, bagi yang tidak biasa berjalan di area pegunungan, waktu tempuhnya bisa duakali lipat, sekitar 12-14 jam berjalan kaki. Sedangkan untuk ke lokasi pembuatan garam tradisional dari  air gunung di wandai, perjalanan bisa ditempuh dari bandara Bilorai, Distrik Sugapa ke Kali Kemabu, perbatasan Distrik Wandai-Homeyo, yang memakan waktu perjalanan ojek sekitar 3-4 jam, lalu dilanjut berjalan kaki sekitar 2-3 jam jalan kaki.   (**) Cara Pembuata Garam Gunung

One thought on “PARIWISATA INTAN JAYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *