Kisah suka dan duka perawat

Perawat lulusan Stikes ABI (Artha Bodhi Iswara) Surabaya ini sudah 1,5 tahun lebih mengabdi sebagai tenaga honorer di Puskesmas Sugapa. Sejak awal mengajukan lamaran sebagai tenaga kesehatan honorer, Eliati sadar bahwa tidak mudah bekerja di kabupaten Intan Jaya. Perempuan yang lahir dan besar di Jayapura ini tentu belum terbiasa dengan irama kerja di daerah tepencil, apalagi dengan standar biaya hidup yang sangat tinggi. Namun berbekal sikap profesionalisme yang harus siap menghadapi tantangan apapun, Eliati pun memantabkan hati untuk terus melangkah. Meski kadang merasa berat, Eliati mencoba terus bersyukur saat menghadapi tantangan berat dalam menjalankan tugas. “Tidak mudah menghadapai masyarakat disini, tapi saya bersyukur banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari banyak kesulitan”, ujar Eliati. Tantangan rutin yang dihadapi adalah tidak mudahnya memberikan pemahaman masyarakat terhadap aturan-aturan atau standar prosedur yang berlaku di Puskesmas. “Misalnya hal sepele, sudah sering kita jelaskan jika jam 12.00 pendaftaran pasien sudah ditutup. Tapi masih sering pasien datang lewat waktu dan marah-marah jika tidak dilayani meski sudah dijelaskan”, kata Eliati menjelaskan. Pernah suatu ketika ada korban terkena panah akibat pertikaian antar kelompok. Si korban tidak mau ke Puskesmas dan mengirim saudaranya untuk meminta suster (demikian perawat biasa dipanggil) untuk ke rumahnya. Setelah ditolak dan dijelaskan, tak berapa lama saudara korban kembali membawa busur dan panah sambil marah-marah  setengah memaksa agas suster datang ke rumah. Permintaan ini tetap ditolak, sampai akhirnya korban menyerah dan datang ke Puskesmas. Tantangan lain adalah rasa aman saat piket malam. Puskesmas tidak memiliki petugas keamanan. Sebagai seorang perempuan yang masih muda, tentu sangat mengkhawatirkan keamanan khususnya resiko terburuk kekerasan seksual. Lebih Berat Senada itu, Hilda Rahmayanti, AMD.Kep, (24 tahun), tidak terlalu asing dengan Kabupaten Intan Jaya. Kebetulan salah satu saudara sudah bekerja disini, jadi cukup banyak cerita yang sudah didengarnya. Hampir 2 tahun lalu, Hilda memulai pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan honore di Puskesmas Sugapa. Awalnya, Hilda hanya mengira perlu beradaptasi dengan hawa dingin, cuaca dan suasana sepi pegunungan. Ternyata ada tantangan yang lebih berat yaitu memahami aspek sosial budaya masyarakat dan seni untuk berinteraksi lebih baik dengan masyarakat yang rata-rata sangat minim pendidikan. Tentu saja hal seperti ini tidak dipelajari di bangku kuliah. Harus belajar day by day, learning by doing. “Meski saya dibesarkan di Papua, sangat beda rasanya tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di Nabire dengan disini (Intan Jaya). Harus sabar menjelaskan sesuatu kepada masyarakat. Yang penting dinikmati aja setiap hari”, ujar wanita yang lahir dan besar di Nabire, Papua. Tantangan kerja yang lain, lanjutnya,  adalah pelayanan masyarakat di luar Puskesmas. Kunjungan ke masyarakat kadang cukup jauh dengan medan yang  menantang seprti ke distrik Ugimba dan Tomosiga. Di kedua distrik yang belum lama dimekarkan tersebut, bangunan puskesmas sudah ada namun belum efektif beroperasi karena tidak ada dokter dan perawat. Sehingga masih menjadi distrik wilayah kerja Puskesmas Sugapa. “Di awal saya kerja, jalan-jalan belum sebaik sekarang, jadi untuk menjangkau kecamatan tersebut cukup menguras tenaga”,  kata Hilda menjelaskan. Hilda juga berharap, kapasitas tenaga kesehatan terus ditingkatkan kualitasnya. Bukan hanya skill, namun juga menyangkut sikap dan kerjasama teamwork yang lebih baik. Kiranya, harapan itu patur didengar dan ditindaklanjuti realisasinya. (**)      

One thought on “Kisah suka dan duka perawat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *